Log in

Keris Made in Madura

Jangan dikira orang Madura hanya menghasilkan celurit. Di Sumenep, justru ada sentra pembuat keris berkualitas tinggi. Para mpu keris ini tinggal di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Sekitar 900–1500, Madura di bawah kekuasaan kerajaan Hindu dari Jawa. Beberapa tradisi Hindu, termasuk keris, mengalir dari Jawa ke MaduraNah, raja-raja di Madura

mempercayakan pembuatan keris dan senjata para para mpu dari Desa Aeng Tong Tong.

Aeng Tong Tong berarti ‘air jinjing’. Itu karena penduduknya selalu menjinjing air dari luar desa karena kesulitan sumber air. Di desa yang kering ini, air langka untuk pertanian. Tak heran jika pekerjaan utama penduduk desa ini membuat keris. Pertanian hanya pekerjaan sampingan.

Ada 350 mpu yang dalam sehari bisa menghasilkan sekitar 300 keris berbagai jenis. Ada pamor blarak sleret, pamor malate sato’or, dan ojan mas. Ada keris nogo sosro, lawi saokel, dan bulu ayam. Ada jenis kulit semongko, brasuta, genggeng ranyut, dan junjung drajat. Macam-macam lah.

Harganya bervariasi menurut bahan, garapan, hingga pesanannya. Bahan utamanya besi, namun ada yang berlapis emas. Ada yang tidak diukir, ada yang kaya ukiran. Ada yang lurus, ada yang lekuk. Patokan harganya Rp 400 ribu hingga Rp 4 juta. Untuk pesanan khusus, bisa lebih mahal.

Hasil karya para mpu dari Aeng Tong Tong ini sudah go international. Tidak hanya di Indonesia, keris asal Madura ini sudah ke Malaysia, Brunei, Thailand, Belanda bahkan ke Amerika Serikat.

Tertarik mengoleksi keris made in Madura? Temui saja langsung para mpunya. Transportasi ke Madura dari Surabaya sangat mudah. Dari Surabaya, lewat Jembatan Suramadu, perjalanan darat ke Sumenep sekitar 4 jam. Dari Sumenep ke Desa Aeng Tong Tong ini hanya 30 menit.

Terakhir diubah padaKamis, 09 Oktober 2014 15:25
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Dampak Budaya Jembatan Suramadu (Bagian.3)
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.