Log in

Dampak Budaya Jembatan Suramadu (Bagian.3)

 Jadi, daya tarik apakah yang pantas “dijual” Madura agar orang-orang datang berbondong-bondong ke Madura? Selama ini Madura sudah terlalu bangga dengan event Karapan Sapi yang dikira sudah cukup berlangsung seperti apa adanya. Tidak ada pengembangan yang signifikan sejak dulu sampai sekarang. Sebagai destinasi wisata,

daya tarik apa yang bakal membuat orang untuk mengunjunginya? Tidak ada pantai yang bagus (dan dikelola dengan baik), tidak ada objek wisata apapun yang membuat orang rugi kalau tidak berkunjung ke sana. Padahal, bisa jadi objek wisata itu mungkin hanya dianggap “biasa-biasa saja” namun bagi orang luar akan menjadi sesuatu yang menarik kalau digarap dengan bagus.

Ada sebuah contoh kecil. Ketika melewati jembatan Suramadu, lurus ke utara, sampailah di pertigaan jalan. Kalau ke arah kanan menuju Sampang, Pamekasan hingga Sumenep, sedangkan ke arah kiri menuju kota Bangkalan. Nah, hanya beberapa kilometer pertigaan di jalan ke arah kiri itu ternyata ada Kampung Batik khas Madura di Desa Tanjungbumi. Yang mengherankan, persis di pertigaan itu, sama sekali tidak ada papan nama menuju tempat itu. Alhasil, siapapun yang melewati Suramadu menuju Madura, tidak akan tertarik belok kiri sejenak menuju destinasi wisata ini. Sayang sekali.

Tentu banyak sekali yang dapat diagendakan terkait dampak budaya keberadaan jembatan Suramadu ini, bukan hanya menyangkut pariwisata. Ketika awal-awal jembatan ini dibangun, pernah mencuat ancaman ulama Madura, “akan menutup paksa Jembatan Suramadu dan siap kehilangan Suramadu jika berdampak pada tatanan sosial budaya Madura yang Islami hilang.”

Sudah lima tahun jembatan Suramadu dibangun, apakah keberadaannya memang betul-betul sesuai dengan yang direncanakan? Atau, jangan-jangan yang disebut “rencana” itu sendiri memang perlu juga dipertanyakan kembali substansinya. (henri nurcahyo)

Terakhir diubah padaRabu, 10 September 2014 07:38
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.