Log in

Dampak Budaya Jembatan Suramadu (Bagian.2)

"Di Suramadu itu, kalau akhir pekan ramai orang menuju Surabaya malamnya baru pulang," katanya. Hari Senin sampai Jumat penduduk di Madura melakukan penghematan, baru kemudian belanja di Surabaya. Hal ini berarti aktivitas ekonomi justru tumbuh di sisi Surabaya.

Dan sekarang, apakah kecenderungan itu masih terjadi? Apakah hal itu hanya terjadi karena Suramadu masih baru saja berfungsi? Jangan-jangan kecenderungan seperti itu malah semakin menggila. Bahwa Suramadu yang semula dimaksudkan untuk menarik orang datang ke Madura, malah terjadi sebaliknya, yaitu justru warga Madura yang berbondong-bondong ongguh ke Surabaya. Di kalangan anak muda sekarang ini, katanya belum dianggap keren kalau belum pernah ongguh.

Dengan adanya jembatan Suramadu ini memang lebih memudahkan orang pergi ke Madura. Tidak perlu lagi antri berlama-lama menunggu kapal seperti dulu. Bahkan, hanya dengan mengendarai sepeda motor saja orang sudah dapat menyeberang ke Pulau Madura. Inilah satu-satunya jalan tol yang membolehkan sepeda motor melintasinya. Tetapi pertanyaannya, apakah kemudahan akses itu menyebabkan semakin banyak orang berkunjung ke Madura atau malah sebaliknya?

Antara Surabaya dan Madura memang tidak berada dalam posisi yang setara. Ada ketimpangan di antara keduanya. Maka hukum alam mengatakan, pihak yang lemah selalu membutuhkan pihak yang kuat. Madura harus punya daya tarik yang kuat untuk dapat menyedot pengunjung dari Surabaya atau kota-kota lain berkunjung ke Madura. Dan yang jauh lebih penting lagi, bagaimana mengelola dan merekayasa daya tarik itu agar tidak menjadi mutiara terpendam yang tidak diketahui oleh siapapun. Tanpa itu semua, jangan kecewa kalau Jembatan Suramadu tidak malah membuat budaya Madura menjadi lebih baik.

bersambung
Terakhir diubah padaRabu, 10 September 2014 07:39
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.