Log in

Life Skill Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren

Kegiatan Belajar di Pondok Pesantren Tradisional Kegiatan Belajar di Pondok Pesantren Tradisional

Keberadaan pesantren yang masih diragukan sebagai lembaga ideal untuk mencetak generasi muda yang berkualitas ini didasarkan pada fakta bahwa sampai saat ini pesantren di kabupaten Bangkalan masih belum banyak berubah dari paradigma awal yang lebih berfokus pada pendidikan agama.

Padahal di era globalisasi dengan persaingan yang terlalu ketat dewasa ini, membangun SDM tidaklah cukup dengan membentuk budi pekerti saja, melainkan diperlukan pula berbagai pengetahuan dan ketrampilan (skill) yang selama ini masih kurang mampu dipenuhi oleh pondok pesantren, karena berbagai faktor seperti masih tertutupnya para kyai untuk menerima perkembangan dan kurangnya sarana prasarana. Akibatnya, lulusan maupun mereka yang drop out dari pondok pesantren tidak dapat bersaing dalam kehidupan yang semakin kompetitif, karena kurang memiliki ketrampilan (skill) yang justru merupakan tuntutan dan kebutuhan pasar dewasa ini.

Rencana industrialisasi di Pulau Madura yang mengiringi pembangunan Jembatan Suramadu yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi akan dapat melahirkan dampak-dampak yang tidak diinginkan utamanya pada kabupaten Bangkalan, seperti, kesenjangan sosial di daerah Labang atau daerah sekitar jembatan, pengangguran masal SDM kabupaten Bangkalan pada gilirannya dapat memacu timbulnya konflik sosial yang meluas dan intensif. Ketika konflik ini terjadi, bisa dipastikan masyarakat kabupaten Bangkalan cenderung menjadi penonton.

Mengantisipasi hal tersebut, maka pengembangan SDM di kabupaten Bangkalan mutlak menjadi kewajiban, utamanya di daerah yang menjadikan pesantren sebagai basis masyarakat. Pengembangan pesantren dengan konsep yang jelas mutlak dilakukan. Pesantren tidak hanya dijadikan sebagai tempat menimba ilmu saja, tetapi pesantren dapat menjadi lumbung yang berkualitas. Hal ini bisa terlaksana karena pesantren memiliki kelebihan dari sekolah umum yang ada di kabupaten Bangkalan.

Hanya saja, selama ini berkembang anggapan bahwa pondok pesantren cenderung tidak dinamis dan tertutup terhadap segala perubahan atau medernisasi. Anggapan ini pula yang menyebabkan lembaga pendidikan pondok pesantren (terutama yang tidak memiliki Madrasah) diidentikkan dengan tradisionalisme, dan tidak sejalan dengan proses modernisasi. Akibatnya, perhatian pada pengembangan pondok pesantren lebih dilihat dalam perspektif kesediaannya menjadi lembaga pendidikan agama

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat berakar masyarakat. Pada umumnya, pesantren hidup, dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pesantren berusaha mendidik para santri, kemudian dapat mengajarkannya pada masyarakat. Eksistensi pesantren menjadi istimewa karena menjadi pendidikan alternatif (penyeimbang) pendidikan yang dikembangkan oleh kaum kolonial sehigga diharapan dapat menumbuhkan kaum intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat.

Terakhir diubah padaRabu, 24 September 2014 13:58
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Berantas Buta Aksara Universitas Trunojoyo »
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.