Log in

Keris Made in Madura

Jangan dikira orang Madura hanya menghasilkan celurit. Di Sumenep, justru ada sentra pembuat keris berkualitas tinggi. Para mpu keris ini tinggal di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Sekitar 900–1500, Madura di bawah kekuasaan kerajaan Hindu dari Jawa. Beberapa tradisi Hindu, termasuk keris, mengalir dari Jawa ke MaduraNah, raja-raja di Madura

Dampak Budaya Jembatan Suramadu (Bagian.1)

Pada mulanya pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Tetapi setelah berlangsung 5 (lima) tahun sejak diresmikan, apakah dampak

Sisca Soewitomo

Sisca Soewitomo (lahir di Surabaya8 April 1949; umur 65 tahun) merupakan seorang pakar kuliner asal Indonesia. Ia terkenal karena kerap kali muncul sebagai presenter acara memasak di beberapa stasiun televisi Indonesia.

Sisca merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya Rp. Tjipto Soemirat, asli Madura, merupakan seorang pegawai di kantor Bea dan Cukai di Surabaya sementara ibunya Rr. Chrysantini Slamet merupakan seorang ibu rumah tangga yang kerap memasak. Dari hobi memasak ibunyalah Sisca kemudian mengenal dunia kuliner. Sejak masih kecil ia kerap membantu ibunya dalam menyiapkan beragam penganan, terutama menjelang Idul Fitri.

Sisca merupakan alumnus dari Akademi Trisakti jurusan perhotelan. Ia lantas mendapatkan beasiswa dari American Institute of Baking di Manhattan, Kansas, Amerika. Sepulang dari AS-lah nama Sisca mulai terkenal, baik sebagai dosen perhotelan maupun sebagai pakar tataboga. Beberapa nama yang sempat menjadi murid Sisca antara lain TatangRudy ChoiruddinDeddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer.

  • Diterbitkan di Tokoh

Marissa Haque

Marissa lahir di Balikpapan dan menjalani masa kecil berpidah pindah dari TK dan SD di Palembang, Sumatera dan kemudian pindah ke Jakarta serta melanjutkan pendidikan dasarnya di SD Tebet Timur Pagi III.[1] Marissa kemudian tinggal di Jakarta mengikuti ayahnya yang berprofesi sebagai karyawan PT. Pertamina. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 73, Tebet,Jakarta dan menengah atas di SMA Negeri 8Bukit DuriJakarta Selatan.[1]

Ayah Marissa, Allen Haque, adalah keturunan Belanda-Perancis. Sementara ibunya, Nike Suharyah binti Cakraningrat, berasal dari SumenepMaduraJawa Timur. Kakek Marissa berasal dari India dan neneknya berdarah Belanda-Perancis. Ia adalah kakak kandung dari Soraya Haque dan Shahnaz Haque.

  • Diterbitkan di Tokoh

D. Zawawi Imron

D. Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Beliau mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1982. Sejak tamat Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep. Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilallang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985. Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria. Saat ini ia menjadi Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta). D. Zawawi Imron banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta. Juara pertama menulis puisi di AN-teve. Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002). Selain itu Beliau juga dikenal sebagai Budayawan Madura. Pada tahun 2012 beliau menerima penghargaan "The S.E.A Write Award" di Bangkok Thailand, The S.E.A. Write Award adalah penghargaan yang diberikan keluarga kerajaan Thailand untuk para penulis di kawasan ASEAN.[2] Selain itu pada tahun 2012, di bulan Juli, beliau juga meluncurkan buku puisinya yang berjudul "Mata Badik Mata Puisi" di Makassar, kumpulan puisinya ini berisi tentang Bugis dan Makassar.

Karya:

Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama), Raden Sagoro (1984), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999), Lautmu Tak Habis Gelombang (2000), Sate Rohani dari Madura: Kisah-kisah Religius Orang Jelata (2001), Soto Sufi dari Madura: Perspektif Spiritualitas Masyarakat Desa (2002), Jalan Hati Jalan Samudra (2010), Mata Badik Mata Puisi (2012)

  • Diterbitkan di Tokoh

Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U.

Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U. (lahir di SampangMaduraJawa Timur13 Mei1957; umur 57 tahun) adalah KetuaMahkamah Konstitusi periode 2008-2011 dan Hakim Konstitusi periode 2008-2013. Sebelumnya ia adalah anggota DPR dan Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar Doktor pada tahun 1993 dari Universitas Gadjah Mada. Sebelum diangkat sebagai Menteri, Ia adalah pengajar dan Guru Besar Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

 

  • Diterbitkan di Tokoh

Iwan Jaya Azis SE, M.SC, Ph.D

Iwan menempuh pendidikan SD (1964), SMP (1967) dan SMA (1971) di kota kelahirannya Surabaya. Setamat SMA, Iwan masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Pria yang luwes dan cepat bergaul, ini populer di antara para mahasiswi. Ia juga senang membantu teman dan aktif di berbagai kegiatan kampus, sehingga ia terpilih sebagai Mahasiswa Teladan. Meraih gelar kesarjanaan S1 dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) tahun 1978. Setahun kemudian mendapat kesempatan belajar di United Nation Center for Regional Development, UNCRD, Jepang. Kemudian, Iwan memperdalam ilmu di Cornell University, Ithaca, New York dan memperoleh gelar MSc (1982) dan Ph.D. pada tahun 1983. karirnya sebagai dosen diawali sebagai Asisten Pengajar (1976-1978). Kemudian menjabat Kepala Biro Kemahasiswaan (1978-1979), dan Dosen FE UI sejak 1979. Lalu menjabat Kepala Jurusan Studi Pembangunan FE UI (1984), Ketua Program Pascasarjana bidang Ekonomi UI (1984). Ia juga aktif sebagai Dosen Tamu pada Department of City & Regional Planning Cornell University, New York, AS (1982-1983). Asisten Muda LPEM UI (1976-1978). Junior Research Associate LPEM UI (1978-1983) dan Staf Pengajar Pusat Perencanaan Nasional LPEM UI (1978-1979). Research Associate LPEM UI (1983) dan pengajar Pusat Perencanaan Nasional LPEM UI (1984). Sebelum menjadi Guru Besar Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia (UI), ia lebih dulu sebagai Guru Besar Madya Tetap FEUI dan menjadi Visiting Professor di Cornell University sejak 1994. Tahun 1986 pernah pula sebagai Visiting Professor di Institute for International Studies & Training, MITI, Jepang. Serta, sejak 1990 bertugas sebagai Forecaster pada LINK-World Economic Group. Selain itu, suami dari Erina E.Azis dan dua orang anak (Mirko Jaya Azis dan Mariko Jana), ini juga aktif sebagai editor di sejumlah Jurnal Ilmiah antara lain Review of Urban and Regional Development Studies, Tokyo, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Australian National University, dan Indonesian Economic Journal terbitan ISEI Pusat. Banyak karya tulisnya yang sudah dipunlikasi di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, sejak 1984 Iwan juga aktif sebagai Manggala BP7, hingga lembaga ini dibubarkan.

  • Diterbitkan di Tokoh

Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.

Suami dari Ery Hariati dan ayah dari dua orang anak (Amelin Herani, S.E. dan Akmal Herawan) ini dibesarkan di tengah keluarga pedagang yang berbudaya santri. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan pondok pesantren dan pernah dijadikan markas Partai Masyumi.

Pada saat kecil, Amal mengaku tak punya cita-cita. Dia tidak bercita-cita jadi pedagang seperti orang tuanya atau kebanyakan anak-anak sebayanya ketika itu. Ada budaya pesantren di kampungnya itu lebih banyak bercita-cita jadi pedagang, ketimbang jadi pegawai negeri. Cita-citanya mengalir saja laksana air.

Amal mengecap pendidikan SD, SMP, dan SMA di kota kelahirannya. Dia selalu mendapat ranking pertama. Lulus SMA, dia mendaftar dan diterima di dua universitas, yakni UGM dan Unair Surabaya. Lalu, Amal memilih Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. Dia pun tekun mengikuti kuliah, dan diselesaikan lima tahun (1967).

Dia pun langsung diangkat menjadi dosen di almamaternya, tanpa melamar. Ketika itu, 1967, UGM mengalami kekosongan pengajar karena banyak dosen terlibat G30S dan dikeluarkan. Dua tahun berikutnya (1969), dia menikah dengan Ery Hariati, adik kelasnya waktu kuliah. Mereka dikaruniai tiga anak, namun satu meninggal dunia akibat leukemia.

Lalu, dia pun berkesempatan melanjutkan studi ilmu politik di Northern Illinois University, Illinois, Amerika Serikat, atas beasiswa Fullbright, meraih gelar M.A.

Kemudian, sambil merawat anaknya yang sakit di Australia, Amal melanjutkan S3 di Monash University, Melbourne, Australia. Dia pun menggondol gelar doktor (Ph.D.) dengan disertasi mengenai politik dalam negeri dalam kaitan hubungan pusat dengan daerah.

Selain sebagai guru besar politik di UGM, dia pun dikenal sebagai pengamat politik yang jernih tanpa mempunyai interest pribadi. Setelah tidak menjabat rektor, ia pun tetap menjadi pengamat politik.

  • Diterbitkan di Tokoh
Berlangganan ke pengumpan RSS ini
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.