Log in

Masyarakat Religius Madura

Orang Madura merupakan penganut agama Islam yang taat. Dalam masalah agama mereka lebih monolit dibandingkan dengan orang Jawa. Semua orang Madura adalah santri atau paling tidak menurut anggapan mereka sendiri. Untuk memahami arti agama di dalam kehidupan mereka sehari-hari, kami akan meninjaunya dari tiga aspek yaitu perspektif tujuan hidup, praktek agama sehari-hari dan pendidikan.

 Untuk memahami persepsi tujuan hidup orang Madura kami akan mejelaskan melalui penggambaran kehidupan seseorang bernama Syamsuri. Syamsuri adalah seorang pedagang di suatu pasar di kecamatan Lumajang. Sebelum dia dating ke Lumajang, di Madura dia hidup dari sepetak kecil tanah pertanian. Karena dengan tanah pertanian itu dia tidak dapat menghidupi keluarganya secara memadai maka dia mencari pekerjaan ke Jawa. Di memutuskan untuk berdiam di Lumajang. Pekerjaan sehari-hari dia adalah mracang (menjual kebutuhan dapur bagi ibu-ibu rumah tangga) di pasar.

Sehabis bekerja ia selalu tidak lupa melaksanakan shalat lima waktu, termasuk shalat Jum’at. Hasil kerjanya dikumpulkan dengan baik dengan cara menyewa tanah pertanian. Dengan demikian, selain berjualan di pasar keluarga ini juga melakukan aktivitas pertanian. Meskipun demikian, mereka tetap bnerhemat. Apa yang mereka dapatkan, baik dari hasil penjualan di pasar maupun dari hasil pertaniannya, sedikit demi sedikit dikumpulkan sehingga akhirnya mereka bisa membeli beberapa petak sawah.

Setelah usahanya berhasil, berkat letelunanya, Syamsuri sempat menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama dengan istrinya. Sebelum ke Mekkah, ia dan keluarganya memang jarang bepergian ke luar wilayah kabupaten Lumajang. Kecuali, jika berziarah ke kiai atau sekali setahun “turun” ke Madura.

Bagi orang Madura, naik haji mempunyai makna sosial. Di samping mempunyai arti telah menunaikan rukun Islam yang ke lima, orang telah naik haji akan dipanggil tuan, dan prestisnya akan naik sehingga akan memperoleh penghargaan dan penghormatan oleh masyarakat lingkungannya. Karrena itu tidak heran bilamana tujuan hidup orang Madura yang utama adalah menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Orang Madura umumnya sulit membedakan antara Islam dan (kebudayaan) Madura. Hal ini tampak pada praktek kehidupan mereka sehari-hari yang tidak bisa lepas dari dimensi agama islam. Selain shalat lima waktu, orang-orang Madura melaksanakan pula kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan peringatan hari-hari penting agama Islam. Misalnya, selama bula Asyuro, mereka membuat selamatan jenang suro, selama bulan Safar diadakanlah se lamatan jenang sapar, di bulan Maulud mereka memperingati dengan selamatan Mauludan. Di bulan Ramadhan, selain mereka menunaikan ibadah puasa juga aktif melaksanakan kegiatan keagamaan lainnya seperti mengaji, membayar zakat fitrah dan sebagainya.

Selengkapnya di dalam kategori ini: Peran Ulama Dalam Masyarakat Madura »
Sportbook sites http://gbetting.co.uk/sport with register bonuses.